18 Tahun Dharmasraya : Era Digital, Mau Dibawa Kemana Generasi Muda Kita?

 


KUYTIMES.COM -Beberapa minggu sebelum pencoblosan, saya ditelpon Tuanku Sutan Riska. Beliau mengajak bertemu. “Da, dimano posisi?” Sapa beliau dengan ramah. “Di rumah, Pak Bupati”, jawab saya. Singkat cerita, bertemulah kami. Tentu sebuah kehormatan bagi saya diminta bertemu. Ngerti sendiri lah, sapa pula awak ini. Bertemu lah kami di salah satu restoran di kota Padang. Saya agak telat, tentu saja bukan sedang menunjukkan rasa tidak hormat. Saya hanya keliru memperkirakan beliau datang di lokasi. Secara, rumah saya dari restoran cukup dekat, sekitar 5 menit dengan berkendaraan, sudah sampai.


Hampir 1 jam, kami ngobrol. Saya lebih banyak mendengar. Anak muda ini, semangat sekali bercerita tentang pengalamannya memimpin Dharmasraya. Sampai lah kemudian, ia minta pendapat saya tentang Dharmasraya ke depan. Saya sampaikan ke beliau, 5 tahun terakhir, saya concern di digital branding. Artinya, saya hampir setiap hari bergelut dengan apapun yang berhubungan dengan digital (optimasi media sosial –facebook, Instagram, Youtube dan lainnya). Sampai lah kemudian, saya tegaskan Rumah Digital itu strategis jika mau diseriusi. Dampaknya bisa kemana-mana, mulai dari jadi ruang untuk menampung kreatifitas anak-anak muda Dharmasraya, dan tentu saja untuk membuat Dharmasraya makin dikenal di luar sana. Sepertinya beliau setuju, karena selama ini memang kanal- kanal media sosial beliau cukup serius digarap oleh anak-anak muda yang dibina sama Pandong Spenra itu. Tapi, apa kabar program Rumah Digital itu, silahkan tanya pada Tuanku Sutan Riska

Sebelum lebih jauh, saya ingin cerita sedikit satu kasus yang penting untuk menegaskan point yang ingin saya sampaikan nanti. Beberapa waktu yang lalu, saya nongkrong dan ngobrol cukup panjang dengan salah satu kawan, yang saat ini jadi praktisi keuangan. Rupanya, kawan ini cukup melek juga dengan perkembangan media digital dengan tetek bengeknya yang macam- macam itu. “Bang, sekarang banyak mahasiswa yang sudah lulus asal Dharmasraya tak berani pulang ke kampung, mereka bingung mau kerja apa, dan kemampuan yang dipunya terbatas juga”, begitu jelasnya. Saya mengangguk-angguk. Kasus ini menarik, jawab saya. Ini bukan saja membuktikan ada persoalan dengan kampus-kampus kita karena melahirkan orang-orang yang tak tahu mau apa setelah lulusnya. Di sisi lain, dunia kerja tak cukup bersahabat dengannya. Susah cari kerja. Padahal sarjana

Saya mencoba merespons penjelasan kawan ini. Hmm… saya kira memang ada ketimpangan antara apa yang diajarkan di kampus dengan kebutuhan zaman. Ini saya kira masalahnya cukup serius. Pikiran saya melayang ke Dharmasraya, bagaimana nasib-nasib anak-anak muda disana? Apa sekolah-sekolah disana juga menghasilkan yang sama, ketika anak-anak yang lulus juga tidak tau harus mau apa. Ruwet. Baiklah, saya mau sharing dengan pengalaman yang saya punya

Beberapa waktu yang lalu, Mark Zuckeberg mengganti nama bisnisnya menjadi Metaverse. Mungkin istilah metaverse sudah banyak yang mendengar, tapi bagi yang tidak bergelut dengan dunia digital, tentu tak cukup menarik baginya. Bagi saya, bukan saja soal menarik atau tidak, tapi saya harus paham karena itu akan sedikit banyak akan saya lakukan, sebagai pegiat media digital. Metaverse secara sederhana adalah dunia baru yang ingin diciptakan oleh Mark Zuckeberg secara virtual. Bagaimana memahami metaverse? Simple saja, kehidupan apa yang kita alami di dunia nyata ini, Mark ingin membuat hal yang sama di dunia virtual. Kita bisa belanja seperti halnya di dunia nyata, kita akan bisa memiliki asset seperti kita miliki di dunia nyata. Kita bisa punya rumah, restoran, mall, tanah, dan berbagai usaha disana. Apa alat transaksinya? Ada yg tau Crypto? Itu alat tukarnya, seperti rupiah di kita, atau dollar dan yang lainnya

Imajinasi orang tentang dunia masa depan sudah semakin canggih. Bahkan, Mark akan bisa menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan hidup kembali di metaverse. Akan sama persis semuanya, mulai bentuk mukanya, suaranya, bahkan karakternya. Secanggih itu.

Udah lah, jangan bermimpi. Kita hidup di daerah diujung Sumatera Barat. Kita ini orang kampong. Tak usah lah sampai ngomong metaverse segala. Benda macam apa itu. Hhmm… baiklah. Secara sederhana, saya ingin menjelaskan seperti ini

Zaman digital ini, membuat kita memiliki posisi yang sama. Selama jaringan internet lancar-lancar saja, maka posisi kita akan sama dengan mereka yang ada di kota-kota besar di Jawa sana. Era digital ini, seharusnya membuat kita semua memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk bisa berkarya. Semua ini membuat kita memiliki kemampuan untuk mengakses informasi menjadi sama dengan yang lain

Saya ingat betul, tahun 2000 yang lalu. Waktu itu, saya kelas 3 SMA. Internet tak ada. Harus diakui, kondisi ini benar-benar membuat kita orang kampung betul, jauh dari peradaban. Waktu itu Dharmasraya saja belum ada. Walau orang kampung, keinginan kuliah tetap ingin masuk kampus yang bergengsi. Tapi, bagaimana pula mau masuk kampus hebat itu. Fasilitas sekolah saja terbatas. Mau bimbel saja ga ada tempatnya. Sampai kemudian, dengan keterbatasan informasi, saya dan kawan terhubung dengan salah satu bimbel cukup terkenal di Jogja. Namanya, kami bimbel jarak jauh. Kami bayar biayanya dan setelah itu kami dikirimkan buku-buku soal dan lengkap dengan jawabannya untuk belajar secara mandiri. Dikirimlah pakai pos, belum ada tuh JNE, JNT, Lion Parcel, dan yang lainnya. Berhari- hari kami menunggunya. Sampailah kemudian, salah seorang pegawai TU mengabari kami jika ada paket untuk kami. Senang betul kami rasanya. Hanya kami berdua waktu itu yang ikut bimbel online. Itu dulu, sekarang semua terhubung dengan apa saja yang kita butuhkan untuk belajar. Semua kita sekarang menjadi sama posisinya. Kita bisa mengakses informasi apapun yang bisa diakses oleh mereka yang hidup di kota besar


Bagaimana anak-anak muda kita saat ini? Tentu saja mereka sudah terhubung dengan canggihnya digitalisasi saat ini. Sudah ada yang menjadi Youtuber dengan subscriber mungkin belum cukup banyak, tapi kemampuannya membuat video sudah cukup baik. Mungkin juga sudah ada yang memiliki kanal Instagram dengan follower yang cukup banyak. Tapi, kita bukan sedang bicara orang per orang, tapi kita bicara banyak orang. Kita bicara generasi muda Dharmasraya. Kita bicara, memberi kesempatan yang sama bagi semua generasi Dharmasraya agar terhubung dengan era digital ini. Bukan sekedar punya akun Facebook, dan berstatus ria tak jelas disana. Tapi mereka berkreatifitas disana, kasarnya mereka bisa cari uang disana dan hidup dari sana. Lihatlah, sekarang menjadi Youtuber duitnya bisa miliaran. Lihatlah, selebgram dapat duit ratusan juta rupiah. Lihatlah gamers dapat duit berjuta-juta. Media digital ini memberikan peluang yang sama untuk semuanya

Anak-anak muda Dharmasaraya saat ini baru sekedar menjadi pengguna media digital, belum sampai pada level bisa menghasilkan karya dan bahkan bisa menghasilkan duit dari sana. Sekarang, pekerjaan sudah banyak macamnya. Pekerjaan bukan lagi hanya jadi pegawai di Pemda, atau berkebun sawit dan karet, atau punya toko baju dan kelontong. Anak-anak muda sekarang bisa jadi Youtuber, Selebgram, punya usaha online, menulis online, fotographer, disainer, dan banyak lagi. Semua itu harus difasilitasi Pemda. Duit di pemda itu duit kita juga, duit masyarakat lewat pajak-pajak yang kita bayar. Sekarang, Pemda harus kembalikan ke masyarakat dengan membuat program- program yang mampu membuat mereka bisa menghasilkan apapun yang bisa membuat mereka menjadi lebih baik.

Era digital ini, bukan lagi bicara peluang, tapi keharusan. Saat ini, apapun akan terdigitalisasi. Yang ga bergerak ke digital, akan tumbang. Lihatlah mall-mall sudah banyak yang tutup. Orang belanja sudah bisa online, pasar-pasar online (Shopee, Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Matahari mall, dan lainnya) sudah terinstall di gadget kita. Belum lagi e-commerse dengan brand- brand tertentu juga sudah menyediakan banyak produk. Tinggal buka HP, pilih barang, bayar dan menunggu barang datang. Sambil tiduran, tak perlu bersolek pergi ke mall untuk belanja. Semua pekerjaan kita akan tergitalisasi. Kita akan dipaksa untuk bergeser kesitu. Kenapa? Karena mitra-mitra mereka sudah melakukan media digital untuk aktivitas—aktivitasnya. Kita ga mau ikutan? Ya tinggal saja


Tentu, dengan kecanggihan dunia saat ini, anak-anak kita harus ditanamkan nilai-nilai moral yang kuat. Dengan nilai-nilai itu mereka bisa mengukur mana baik dan mana yang buruk. Itu adalah tugas kita sebagai Orangtua, tugas kita sebagai Guru, tugas para Ninik Mamak, tugas para Ulama, dan tentu saja tugas kita semua

Bahkan, untuk kampanye Pilkada, kita sudah memulainya pada Pilkada 2020 yang lalu. Perang video, peran konten. Itu adalah keniscayaan. Semua politisi harusnya menyadari ini, membuat kanal-kanal official di media sosial secara serius. Punya akun Facebook dan Instagram official. Punya kanal Youtube. Masyarakat kita sudah familier dengan semua kanal-kanal itu. Bergeserlah lagi. Sampaikan semua aktivitas disana, pamerkan apa yang sudah dikerjakan biar masyarakat tau apa yang sudah dikerjakan. Informasi penting sampaikan lewat kanal-kanal digital itu. Biaya irit sekali itu. Percaya lah

Jangan lupa pula. Ajari pula anak-anak kita berpikir kritis, agar dia bisa mengingatkan yang melakukan kesalahan, dan membenarkan yang melakukan kekeliruan. Betapa banyak sekarang yang salah menggunakan dengan kekuasaan yang ia punya. Baik yang punya kuasa politik, kuasa ekonomi, kuasa budaya dan apapun lah namanya. Bukan saja mereka agar mereka kritis ketika mereka melihat ada yang salah, tapi juga agar mereka suatu saat nanti juga bisa menerima kritik-kritik yang ia terima ketika ia memiliki kuasa

Penulis :Romi Siska Putra, Pegiat Digital Branding

Melakukan Kajian Analisis Sosial Terhadap Perdagangan di Pasar Raya Kota Padang



Oleh (Alumnus Peserta LK.1 HMI Komisariat Adab UIN IB PADANG)


Perdagangan yang berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang mampu bersaing dalam bidang perdagangan di masa yang akan datang, adalah perdagangan yang mampu mengembangkan produktifitas perdagangan.

Sehingga pedagang bisa menghadapi  dan memecahkan masalah perdagangan yang diakibatkan kurangnya perhatian dari Pemerintah dalam suatu sistem perdagangan. Perdagangan merupakan jantung dari perekonomian di indonesia khusunya di kota padang.

Secara umum sistem perdagangan merupakan suatu sistem yang memiliki kegiatan yang cukup komplek, yang meliputi komponen yang berkaitan satu dengan yang lainnya, berbagai komponen yang terlibat dalam sistem perdagangan perlu dikenali agar perdagangan menjadi teratur dengan baik dan Perdagangan juga dapat kita lihat dari produsen, konsumen dan cara interaksi keduanya dalam perdagangan. Hubungan antara produsen dan konsumen harus saling berkomunikasi dengan baik agar sistem perdagangan menjadi sempurna.

Dalam penelitian ansos yang dilakukan oleh alumnus LK.1 komisariat adab UIN IB PADANG dilakukan kepada bebeapa orang pedagang disekitaran pasar raya padang diantaranya kepada Pak Sofyan merupakan pedagang ikan yang sudah berumur 60 tahun, yang berasal dari Pesisir Selatan. Jenis ikan yang dijual oleh Pak Sofyan adalah Baledang dan Sala. Pak Sofyan sudah berjualan selama 10 tahun yang lalu sekita 2009 yang lalu. Penghasilan Pak Sofyan perharinya mencapai lebih kurang Rp. 500.000 dan itupun Pak Sofyan juga membayar sewa tempat ia berjualan sebanyak Rp. 15.000 perhari. Dan Pak Sofyan pun tidak selalu mendapatkan keuntungan yang banyak karena harga ikan segar cenderung murah disebabkan oleh pasokan dari nelayan yang meningkat secara normal.

Kemudian dilanjutkan lagi kepadab Pak Herman merupakan pedagang ayam yang berasal dari Pesisir Selatan. Pak Herman dulunya juga  berasal dari seorang peternak ayam, namun dengan berjalannya waktu Pak Herman memilih untuk tidak menjadi peternak ayam, ia lebih memutuskan menjadi pedagang ayam potong.

Pak Herman membeli ayam yang berada di Daerah Solok dan Pariaman. Pak Herman berangkat dari rumahnya menuju Pariaman dari pukul 04.00 Wib. Pak Herman membeli ayam setiap harinya sebanyak 20 keranjang ayam, yang setiap keranjangnya berisi 9 ekor, dalam bentuk ayam potong, ayam hidup, ceker, hati, empela, serta isi perut tersebut dijual kepada peternak lele. Adapun keuntungan yang diperoleh oleh Pak Herman sejumlah Rp. 450.00 – Rp. 500.000 perharinya. Pak Herman menjual 1 ekor ayam seharga RP. 40.000, dan keuntungan yang diperoleh Pak Herman sejumlah Rp. 3000, dan untuk ayam yang masih hidup itu untungnya Rp. 1000 – Rp. 2.000 per ekor.

Pada Hari Raya Idul Adha, penjualan ayam Pak Herman mengalami sedikit kerugian dikarenakan masayarakat lebih banyak membeli daging sapi  dari pada ayam potong, meskipun begitu paling sedikit keuntungan yang diperoleh Pak Herman hanya balik modal.

Dan juga kepada Pak Siis merupakan pedagang tribol yang berasal di Kota Padang, yang sudah berdagang selama kurang lebih 30 tahun dan sudah mengahadapi berbagai suka duka yang ia hadapi dalam menjalani kerasnya hidup yang memang harus menjadi perhatian oleh generasi muda bangsa untuk kesejahteraan pedagang. Pendapatan Pak Siis setiap harinya sebanyak Rp. 100.000 – Rp. 200.000 perharinya.

Pak Siis menjual tahu balok seharga  Rp. 1.000 dengan modal Rp. 800, dan Pak Siis menjual tempe bungkus seharga Rp. 6000 – Rp. 7.000, dan itupun Pak Siis kadang mengalami kerugian dikarenakan ekonomi merosot. Pak Siis melakukan usaha tribol sendiri dengan tekad yang kuat dan percaya diri Pak Siis bisa memenuhi kebutuhan keluarga dengan pekerjaan Pak Siis yang sekarang.

Kemudian dilanjutkan kepada Buk Ai merupakan pedagang buah yang berusia 45 tahun, yang berasal dari Simpang Haru, Buk Ai berdagang jeruk sudah 6 tahun yang lalu. Alasan Buk Ai berjualan buah-buahan berjenis jeruk karena dari segi modal dia merasa jeruk adalah termasuk buah-buahan menggunakan modal yang kecil. Buk Ai berangkat ke pasar pada pukul 06.00 dan pulang pukul 16.00. Ia membawa barang dagangannya dengan angkot dengan dibungkus menggunakan karung. Dan Buk Ai berjualan di depan gedung sayur yang bertepatan di samping pintu masuk gedung sayuran di pasar raya.
Buk Ai merupakan sosok ibu yang tangguh dan selalu bersemangat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya walau apapun itu keadaannnya karena Buk Ai yakin usaha yang Ia lakukan merupakan usaha yang di ridhoi oleh Allah SWT.

Kepada Pak Jon merupakan seorang pedagang cabe yang berusia 65 tahun. yang bertempat tinggal di Teluk Bayur dan  telah lama juga berdagang cabe lebih kurang selama 15 tahun. Pak Jon dalam usahanya berdagang cabe beliau mengeluarkan modal sejumlah Rp15.000.000 dan Pak Jon mendapatkan keuntungan dalam perdagangannya menjual cabe itu sejumlah Rp3000.000  perhari. Pak Jon ini membeli dari buruh di Daerah Jambi satu kali dalam seminggu.

Pak jon berangkat dari jam 04:00 sampai dengan 16:40. Beliau merupakan pedagang sukses cabe yang bersal dari teluk bayur, yang dulunya beliau merupakan orang yang sangat susah hidupnya namun dengan kerja keras dan kemauannya untuk berdagang  dan berusaha dengan maksimal,pada akhirnya beliau menjadi salah satu pengusaha sukses cabe di daerah Kota Padang.

REFLEKSI KONTRIBUSI GOLONGAN KIRI BAGI NKRI (Bunga Rampai Peristiwa G30S/PKI)


Oleh : Kelvin Ramadhan HMI IS UNP

_“Sejarah yang baik bukanlah ditulis untuk dia sang pemenang, tapi juga untuk dia yang berjasa dan terabaikan”_

Ada semacam gangguan mental yang selalu melanda publik ketika ia dihadapkan pada hal-hal yang berhaluan “kiri”. Entah itu saya atau anda, perasaan gugup dan takut lantas seketika terbit ketika berbicara hal berbau kiri. Kehadiran golongan kiri bagaikan virus membahayakan yang harus dimusnahkan keberadaannya. Di setiap pembicaraan “kiri” di ruang-ruang gagasan, ruang-ruang publik (kolektif dan individu) negara telah dulu melakukan antipati yang ditunjukkan melalui sikap agresif pemerintah.

Membaca dari sejarah istilah golongan kiri pertama kali muncul pada zaman Revolusi Perancis. Penamaan golongan kiri disematkan oleh kaum Ancien Regime (rezim Aristokratik Perancis).  Kepada kaum Republik lawan politik nya di Perancis. Penamaan ini dilatarbelakangi karna Golongan Republik selalu duduk dan mengambil tempat disisi kiri di dewan legislatif.

Disaat itu, kedua golongan politik ini mengalami pertentangan. Sayap kanan melakukan upaya mempertahankan kekuasaan penuh (hak veto) raja, sebaliknya sayap kiri menghendaki kekuasaan raja terlalu banyak atau harus dikurangi. Sayap kanan menghendaki sistem monarki. Sayap kiri menginginkan sistem republik atau demokrasi.

Dalam politik, istilah “kiri dan kanan” adalah sebagai bentuk pengkotak-kotakan politik atas dasar ideologi, pilihan politik, dan partai. Golongan Kiri sebagai partai pergerakkan yang revolusioner dan golongan kanan sebagai partai keteraturan yang konservatif. Menurut ilmuwan Italia Norberto Bobbio, apa yang disebut “kiri” dan “kanan” bisa dilihat pada sikapnya pada dua isu besar: pertama, “kesetaraan” vs “ketidaksetaraan” dan “kebebasan” vs “pengekangan (otoritarianisme)”.

Benturan antara keduanya membagi dunia kedalam dua ideologi besar antara sosialis-komunis pada sayap kiri dan liberalis-kapitalis di sayap kanan. Pertentangan keduanya merupakan benang merah bagian dari peristiwa-peristiwa besar dunia yang pernah terjadi sebut saja perang dunia II antara Jerman, Rusia, Italia, Jepang sebagai blok timur (berhaluan sayap kiri) dengan Perancis, Amerika, Inggris sebagai blok barat (berhaluan sayap kanan). Dan hingga saat ini pertentangan diantara keduanya masih berlanjut dalam perang dingin antara Tiongkok, Rusia, Korea Utara (sayap kiri) dengan Amerika dan sekutunya disayap kanan.

Pada dasarnya kiri tidak selalu berarti komunis, anarkis dan atheis sebagaimana stigma yang telah masyarakat tanamkan. Sehingga yang menjadi persoalan kita sebagai bangsa Indonesia adalah mengubah persepsi masyarakat ketika mendengar kata “golongan kiri”.


  1. Kesalahan persepsi masyarakat membawa pada anggapan golongan kiri identik dengan komunis. Hal ini masih berlangsung hingga sekarang, cap komunisme terhadap golongan kiri, buntut dari sejarah kelam G30S/PKI, membuat hal-hal yang berbau “kiri” adalah virus dan harus dimusnahkan di Indonesia Padahal ada banyak haluan yang termasuk golongan kiri, diantaranya ada sosialisme, marxisme, anarkisme dan pelbagai kajian ilmiah yang diideologikan lainnya.


Menurut hemat penulis, setelah menganalisis para tokoh kiri dunia, seperti Karl Marx, Che Guevara, Tan Malaka, Soekarno. Golongan kiri adalah mereka orang-orang idealis lagi kritis yang menghendaki perubahan. Mengutip pendapat filsuf jerman, Hegel, ada tiga hal yang akan membawa perubahan sosial; pertama ide-ide bertentangan, kedua; upaya untuk menyelesaikan pertentangan tersebut, ketiga; pertentangan-pertentangan yang akan muncul.

Sejalan dengan pendapat Hegel orang-orang kiri menawarkan ide-ide pembaharuan yang bertentangan dengan kondisi status quo. Karena hanya dengan pertentangan, perubahan itu akan terjadi. Sejarah masyarakat yang mengalami ketertindasan telah melahirkan nama orang-orang kiri yang penulis tuliskan diatas.

Maka untuk merubah keadaan menuju lebih baik, diperlukan upaya bernama pertentangan pada kemonotonan (status quo) dan ideologi penindas lainnya. Sebut saja imperialisme Belanda terhadap Indonesia. Tanpa pertentangan Indonesia tidak akan pernah merdeka.

Golongan kiri memiliki andil besar dalam memerdekakan dan membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsepsi yang ditawarkan para “kaum kiri” mampu mengaktifkan nalar dan semangat persatuan masyarakat untuk merdeka dari segala bentuk imperialisme dan kolonialisme.

Refleksi Kontribusi Golongan Kiri

Menilik historiografi Indonesia, ada upaya pengkaburan dan penyembunyian sejarah yang kerap dicantumkan pada buku pembelajaran. Sejarah Indonesia rasis. Seperti kita dapati pada kurikulum pembelajaran disekolah-sekolah bagaimana sejarah mencitrakan golongan kiri adalah ia yang komunis, ateis, dan ia yang anarkis. Upaya ini telah menggiring opini dan telah menjadi kayakinan dimasyarakat, membuat masyarakat phobia terhadap istilah “kiri”. Padahal sumbangsih tokoh-tokoh kiri, sangat besar bagi NKRI.

Dari segi gagasan. Pertama, golongan yang memantik api semangat kemerdekaan lahir dari gagasan kiri: persamaan nasib. Gagasan nasionalisme (NKRI harga mati) yang selalu diagung-agungkan bukanlah lahir atas kesamaan etnis, ras, dan budaya. Melainkan didorong atas dasar kesamaan nasib sebagai bangsa yang terjajah. Kedua, banyak para pendiri bangsa Indonesia diilhami oleh ide para tokoh revolusioner dan kesetaraan manusia, sebut saja Tan Malaka. Gagasannya merdeka 100% membuat ia dijuluki sebagai Bapak Republik.

Pernah seketika Soekarno mengeluarkan pendapat “Tan Malaka adalah pencinta tanah air dan bangsa Indonesia, ia adalah sosialis sepenuh-penuhnya”. Ketiga, dasar negara Pancasila berfilosofi pada ide-ide kiri, seperti ide-ide pluralisme, kemanusiaan, demokrasi, dan keadilan social.

Soekarno sendiri sebagai pencetus Pancasila mengatakan bahwa Pancasila itu kiri.  Juga, pada pidatonya 1 Juni 1945 “kita hendak mendirikan satu negara buat semua. Bukan buat satu orang, buat satu golongan, baik golongan bangsawan, golongan kaya, tetapi semua buat semua”
Hal yang sama juga terlihat pada UUD 1945 pasal 1 ayat 1 dikatakan Indonesia adalah negara kesatuan dan berbentuk republik (bukan monarki). Dan pada ayat 2 dikatakan kedaulatan berada ditangan rakyat. Pasal 27 ayat 1, yaitu tentang persamaan kedudukan warga negara dimata hukum dan pemerintahan. Serta pasal 33 menyebutkan bahwa kepemilikan dan pengelolaan kekayaan Indonesia di kuasai oleh negara dan diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat.

Dari segi ketokohan. Hampir semua pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia berhaluan pada ide-ide dan gagasan kiri. Ada kartini sebagai tokoh kiri perempuan yang menentang diskriminasi gender dan anti-feodal. Tan Malaka dengan gagasan merdeka 100% menentang kolonialisme dan imperialism. Tan malaka pernah berucap “tuan rumah tidak akan berunding dengan orang yang menjarah rumahnya”. Tak juga ketinggalan Soekarno dan Hatta juga berhaluan  kiri.

Soekarno dengan gagasan Marhaenisme (marxisme, hegel, dan lenimisme) dan juga hatta dengan cita-citanya mewujudkan masyarakat yang sosialis, merdeka dan setara. Dan terkahir yang tidak bisa kita nafikkan Bersama bagaimana kontribusi dan sumbangsih para tokoh-tokoh komunis (PKI). Anak-anak muda PKI yang mempunyai kontribusi besar sebelum peristiwa proklamasi, ada Sukarni, Wikana, dan Aidit.

Untuk itu, mengingat waktu Indonesia merdeka sudah berusia 74 tahun, maka semestinya simpang-siur sejarah bangsa yang kerapkali terjadi di murnikan kembali. Tidak sedikit kontribusi orang-orang yang tidak disebutkan namanya memiliki andil besar dibalik pembentukkan sejarah Indonesia.

Maka dari itu pada tulisan singkat ini penulis mengajak agar merefleksikan dan mengangkat ke permukaan bagaimana besarnya kontribusi orang-orang kiri bagi NKRI yang harus diakui. Persekusi yang masih terjadi hingga sekarang terhadap golongan kiri bukan saja sebuah kejahatan melainkan menempatkannya sebagai “kaum durhaka” dihadapan sejarah dan para pendiri bangsa.

Dan pada hakikatnya, kiri di Indonesia masih harus diberlakukan untuk membangun bangsa dan negara menuju kesejahteraan Bersama dan melawan neoliberalisme yang telah lama mencengkeram Indonesia. Ingat, kiri berarti mendahulukan keperntingan sosial bersamaan dengan nasional ketimbang kepentingan individual maupun golongan!

"Pentingnya Edukasi Hukum"


Oleh : Rizky Yori Ardi S.H ( Advokat Muda & Kabid PAO HMI Cabang Padang)

Menjadikan hukum sebagai budaya yang melekat dalam diri masyarakat menjadi hal yang harus . Hukum yang merupakan petunjuk hidup, yang berisikan perintah-perntah dan larangan yang mengatur tata tertib dalam kehidupan berasyarakat yang berarti putusan ( Judgment, Verdict, decision) ketetapan (Government) . 

Kekuasaan (Authority Power) hukuman (sentence) dll.  Semestinya sebagai Negara  yang mendeklarasikan sebagai Negara Hukum yang menganut pemahaman Hukum Erop Kontinental seharusnya kesadaran untuk mentati hukum itu mesti dajarkan sejak dini kepada generasi kecil hingga dewasa.

Disamping hal yang demikian mengajarkan atau memberi edukasi atau pendidikan sadar atau taat aturan kepada masyarakat tidak hanya hadir dari lingkungan terdekat saja mesti perlu adanya Regulasi atau semacam wacana dari Pemerintah untuk memeberikan kesadaran-kesadaran atau pendidikan Hukum sejak dini kepada generasi muda mulai dari anak-anak hingga dewasa. 

Kalau tidak ada wacana semacam ini maka jangan harap kesadaran masyarakat untuk mentaati aturan itu hadir semunya itu akan menjadi cita-cita dan harapan semata.

Kita perlu juga belajar kepada Negara-negara maju terkait perkembangan hukum. Negara maju hari ini tidak lagi memikirkan bagaimana masyarakati untuk mentaati aturan –aturan yang dibuat  bahkan sudah sampai dimana prilaku yang kita anggap wajar pun sudah diatur dan di ajarkan sejak dini kepada generasi muda sepeti contoh ada hukuman atau berupa sanksi kepada masyrakat yang memukul binatang sekalipun.

Soal penegakan hukum kita tidak bisa melepaskan dari LAW ENFORCEMEN atau Pilar penegak hukum yang dimana ada empat pilar penegakan hukum yang ada yaitu Hakim, Jaksa Polisi dan Pengacara/Advokat. 

Semestinya Empat Pilar Caturwangsa penegak hukum ini juga mesti diberi ruang bagaimana Edukasi terkait akan kesadaran hukum sejak dini sebagai sasaran berjalannya atau tegaknya hukum itu sendiri Caturwangsa pengakan hukum itu tidak hanya terpaut sebagai corong hukum yang apabila ada permasalahan hukum saja baru ada bentuk Ekseskusi bahkan hal tersebut cenderung tidak jelas.

Hal ini tidak hanya di percayakan atau serahkan seutuhnya kepada pendidik /akademisi dan pengajar saja karna keterbatasan dari berbagai macam aspek. Untuk itu tugas Negara yang diamanatkan dalam Kontitusi/ Undang-undang Dasar 1945 negara wajib mencerdaskan kehidupan bangsa, cerdasnya ini tentu segala sesuatu yang berkaitan dengan Hukum dan kesadaran Hukum itu sendiri. 

Hukum itu hadir memberikan suatu keyamanan ketentraman dan kepastian akan menjalankan kehidupan bermasyarakat demi terciptakan suatu tatanan yang utuh dan bekemajuan untuk kehidupan bersama. 

Kalu ini Politik, Maka Belajarlah Dari Mugiwara



Zorino Farica S
(Tokoh Oposisi penikmat kopi)

Yosh! Kalau sudah bicara politik maka telinga para pendekar jagat persilatan politik akan naik. Maka para pendekar seantreo paguyuban akan turun gunung. Matanya naik-naik turun membaca satu-satu kata. Apakah tulisan itu kawan atau lawan. Jurus jempol tampa bayangan siap dilancarkan. Kalau lawan maka dihajar habis-habisan. Kalau kawan, share habis-habisan. Maka sebelum ini dilanjutkan marilah kita berjanji sejenak untuk menarik nafas dalam dalam dan ikhlas membaca tulisan ini. Tingalkanlah LIKE atau COMMENT sebagai kritikan dan penghargaan. Mohon di-SHARE agar saya terkenal. Jangan hanya membaca diam-diam. Mari dengan ini kita berdiskusi saling bertukar fikiran. Saling kenal. Saling ketemuan. Saling bertukar Nomor HP. Saling janjian. Dan mudah-mudahan lanjut ke tahap berpacaran sebelum ditikung kawan.


Bagi yang tidak tertarik mungkin sudah tidak akan membaca paragraf kedua ini. Mungkin sudah beralih ke instagram lalu melihat foto mantan yang lagi mesra dengan pacar barunya. Atau melihat DJ Butterfly lagi party. Tapi kalau anda masih membaca. Anda termasuk penonton politik yang baik. Kalau tidak, anda adalah penggemar One Piece. Namun apakah anda adalah salah satu dari golongan itu? Saya pikir setelah membaca tulisan ini anda akan berjamaah membukainstgram lucinta luna hehe.

Indonesia saat ini bagaikan masa Sirohige tewas dalam animasi One Piece. Seluruh tatanan daerah sudah mulai memanas. Baik pusat atau desa kecil sekalipun. Para perompak sudah berkeliaran bebas dimana-mana. Mereka bisa saja melakukan apapun tanpa takut. Tanpa ada perlindungan, penduduk terombang-ambing. Para perampok menjarah apa saja. Mengaku apapun dia mau. Mencari sensasi dengan menghancurkan apapun. Bagi mereka apapun yang mereka lakukan tidak masalah. Asal, dalam daftar pencarian harga buronan mereka bisa tinggi dan bergengsi.

Lalu pasukan angkatan laut? Mereka selalu bersama-sama, dengan gaya khasnya, berjubah putih berlakon bak pahlawan. Dengan jumlah yang banyak, mereka menggentarkan apapun. Bila jubah mereka sudah terpasang, tak satupun akan ada yang berani melawan. Angkatan berjubah putih ini berlagak sebagai penegak kebenaran, mereka melakukan apapun sesukanya. Semua dilakukan dengan meneriakkan kata demi keadilan. Padahal mereka juga menindas. 

Saat ini pasukan jubah putih ini tak segan-segan menghancurkan rumah kepala desa. Atau mengambil alih kapal orang. Mereka merusak apapun. Siapapun dan apapun yang menghalangi mereka, akan dihabisi. Baik dengan menyerang, atau dengan memberikan isu-isu melalui kabar burung, bukan kiasan. Namun di anime ini, loper surat kabarb adalah burung, lalu mereka melaporkan, bahwa semua yang mereka kerjakan adalah demi menegakkan keadilan bagi dunia.  Memang tak heran, sedari awal anime ini dimainkan,  pasukan ini selalu diperlihatkan sebagai suatu organisasi yang beraninya cakak basamo (keroyokan). Mereka datang membawa senjata lengkap dengan atribut mereka baju berwarna putih dan sang komandan memakai jubah dan berdiri di depan siput suara.

Kalau anda masih membaca paragraf ini, itu artinya anda tidak lagi cuma penikmat animasi One Piece. Anda juga bukan penonton politik, sekaligus sudah jadi pengamat politik.  Tangan anda sudah mulai bergerak-gerak dan mencari-cari. Tak enak di tengah berhenti begitu saja baiknya kita teruskan dahulu.

Dalam dunia baru, juga ada pemerintahannya. Namun sayang, para birokratnya hanya tunduk kepada Tentubiyo alias bangsawan. Mereka akan melakukan sesukanya. Menghancurkan pulau Nico Robin. Atau membuat Pulau Buatan. Membuat apapun yang mereka suka. Pemerintah hanya tunduk kepada mereka. Mereka digambarkan dengan sketsa, hanya beberapa secara nyata terlihat, selebihnya mereka hanya tawaan yang beriringan dengan kegelapan. Tak terlihat.

Apakah kondisi Indonesia saat ini seperti itu? Jika iya maka menganguklah, dan jika tidak maka berusahalah untuk sedikit melihat sekitar, jangan terpaku saja dengan kenangan indah bersama mantan yang sudah tak mungkin balikan. Kalau memang masih sayang, turunkan ego, minta maaflah. Tapi nanti, bacalah dulu tulisan ini sampai habis, karena sudah di tengah, sayangkan kalau membacanya hanya setengah-setengah.

Lalu jika anda bukanlah dari orang-orang yang bereuphoria dengan keadan sekarang, maka tirulah Luffi, sang kapten bajak laut Topi Jerami. Sungguh hanya orang orang yang dianugrahi imajinasi tinggi yang mampu melihat persamaan animasi One Piece dengan sistem Pelatihan Kepemimpinan. Mari kita baca analisis berikut ini:

1. Luffi tidak pernah bergadang. Dia selalu tidur kalau malam hari, kecuali di saat genting. Sepertinya Luffi sangat menghayati dan mengamalkan lagu begadang dari bang Haji Roma. 

2. Luffi selalu makan daging, tak pernah makan telur atau bahkan mie instan seperti mahasiswa (mohon maaf bagi mahasiswa yang tersinggung).

3 Luffi hanya bersama sedikit orang. Baginya lebih baik teman ketimbang bawahan. Tidak seperti si Buggy Badut yang hanya memanfaatkan keberuntungan lalu pamer-pamer kehebatan. Pernah dekat dengan si Shank. Pernah satu kapal dengan Sirohige, bla bla bla. Hanya untuk mencari pengikut sebanyak banyaknya. Padahal dia sendiri tahu, bahwa dia hanya orang bodoh.

4. Luffi melihat kebenaran dengan keiklasan. Luffi tak pernah suka apabila ada penindasan di depan matanya. Dia tidak peduli apakah itu perompak yang lagi pengen tenar atau Angkatan Laut sekalipun, pasukan jubah putih yang berlagak sebagai pembela kebenaran. Bagi Luffi dia tak perlu mencari kebenaran. Dia tidak sesombong itu. Dia selalu mendekatkan diri kepada kebenaran. Dia akan berteman dengan perompak atau angkatan laut. Tapi dia juga tak peduli apakah perompak itu teman seperjuangan atau angkatan laut pembela kebenaran, apabila mereka adalah penindas, maka Luffi akan melawan.

5. Luffi selalu konsentrasi. Fokusnya menjadi Raja Bajak laut tidak bisa di alihkan. Karena Luffi jomblo, dia tidak perlu antarkan pulang pacar. Atau telponan dengan pacar malam hari. Atau tiap hari jalan-jalan dengan kapal. Atau berantem. Atau ke Cafe menikmati kopi di sore yang senja. Asik.

Nah, masih nayak lagi yang bisa anda lihat dari Luffi. Nontonlah 800 episodenya, satu episode berdurasi 30 menit, maka hanya butuh 3 bulan nonstop menonton agar anda bisa tahu ceritanya, kecuali jika malam hari anda tidak disibukan dengan menelpon setiap malam. Makan pecel lele setiap sore dan bertengkar setiap kali ketemuan bersama pacar anda.

Maka seperti janji di awal. Tulisan ini wajib anda tambahkan dengan LIKE dan Comment atau Share agar saya terkenal. hehehe

Wasasalam

Coffee Shop dan Tren Lainnya

Oleh : Haldi Patra (Kabid KPP HMI Cabang Padang}

Hari ini kopi tengah menjadi primadona di Indonesia. Sebenarnya, budaya minum kopi sudah ada semenjak dahulu. Orang-orang menggunakan kopi dalam untuk menemani mereka berkumpul dan bersosialisasi. 

Hampir di setiap daerah terdapat kedai-kedai kopi tradisional yang selalu ramai dikunjungi. Disana, kopi disajikan secara sederhana. Kopi bubuk dicampur dengan air panas –dengan takaran gula tertentu tergantung si pemesan, kadang ditambah susu dan dijual dengan harga yang murah.

Namun, belakangan ini cara penyajian kopi menjadi lebih canggih. Kopi yang disajikan bukanlah kopi bubuk seperti di kedai kopi tradisional. Kita bisa memilih jenis kopi Rebusta atau Arabica. Mereka menawarkan sajian kopi dengan berbagai cara dan teknik penyeduhan untuk menghasilkan berbagai macam piihan, seperti vietnam drip, expresso, capuccino dan lain-lain. Untuk Kota Padang saja, tidak terbilang jumlahnya tersedia coffe shop. 

Mulai dari yang diusahakan di halaman rumah dengan sederhana bahkan coffee shop yang bermodal puluhan juta. Di sana, berjejarlah anak-anak muda menghabiskan malam. 

Saat berada di coffee shop, tidak mudah untuk tidak tergoda untuk memfoto kopi, mengirimkannya ke media sosial lalu menulis kalimat-kalimat filosofis. Kata-kata kopi, senja dan hujan menjadi sangat populer. Secangkir kopi untuk menikmati senja yang indah. Tulisan-tulisan itu menjadilebih ‘syahdu’ jika dikaitkan dengan perayaan patah hati.

Kini kopi bukan hanya sebagai pengusir kantuk, melainkan telah menjadi gaya hidup. Orang-orang rela membeli segelas kopi yang kadang harganya lebih mahal dari sepiring nasi. Membuka kedai  kopi nampaknya sedang menjadi bisnis yang menggiurkan dan menjadi barista merupakan profesi keren untuk saat ini. 
Tren Lainnya Belakangan ini.

Sebelum demam kopi melanda, demam kembali ke alam terlebih dahulu menjangkit anak-anak muda. Jika ada yang mengatakan bahwa demam kopi ini dimulai saat film Filosofi Kopi (2015) meledak di pasaran, maka demam kembali ke alam ditandai dengan booming-nya 5 cm (2012) dan My Trip My Adventure (2013-)yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta. 

Memang hal ini masih membutuhkan diskusi lebih mendalam, namun kita tidak bisa untuk tidak menampikan teori awal bahwa media berpengaruh dalam membentuk budaya populer. 

Sebelum berfoto di coffee shop atau memfoto kopi adalah hal yang keren, berfoto dengan menyandang carrier di puncak gunung, tepi pantai atau di air terjun adalah hal yang keren. 

Maka berbondong-bondonglah anak muda mendaki gunung, menyeberangi laut dan menelusuri hutan. Hal ini sering disesalkan oleh para pencinta alam yang menganggap alam menjadi kotor karena dikunjungi oleh mereka yang tiba-tiba menjadi pecinta alam karena mengikuti tren. 

Saya tidak tahu dengan daerah lainnya, namun membuka usaha rental peralatan outdoor juga pernah menjadi bisnis yang menggiurkan beberapa waktu yang lalu di Kota Padang. Setiap sesuatu hal sedang menjadi tren, maka itu akan menjadi peluang bisnis yang menggiurkan bagi mereka yang mampu untuk melihat peluang.

Selanjutnya, mari kita mundur lebih ke belakang. Demam fotografi dengan menggunakan kamera digital single lens reflect (DSLR) juga pernah melanda sebelum anak-anak muda. Siapapun yang menyandang kamera DSLR adalah orang-orang yang dianggap sangat keren pada waktu. Namun fotografer adalah hobi yang mahal sehingga demam ini tidak terlalu mewabah dan hanya dapat dinikmati segelintir kalangan. 

Kini DSLR tidak lagi menjadi primadona. Kamera dari ponsel pintar telah memiliki resolusi kamera yang tinggi dan mirror less tampaknya lebih digandrungi bagi fotografer amatir. Dibandingkan dengan DSLR yang lumayan besar dan berat, mirror less memiliki ukuran yang lebih kecil dan praktis dibawa-bawa.  

Jika kita terus mundur sedikit lebih ke masa sebelumnya, maka akan didapati anak-anak muda digandrungi demam bermain musik di studio band. Festival band ramai diadakan. Lalu bermunculan grup band yang mencoba untuk menembus industri musik. Hari ini, nge-band kiranya tidak lagi menjadi tren. Sedikit sekali kita melihat band-band baru bermunculan. Bayangkan dengan beberapa tahun lalu, hampir setiap minggu band-band baru muncul dan mengeluarkan album. 

Tentu kita pernah melihat kedai kopi, hutan, air terjun, pantai dan gunung, studio band adalah objek yang sangat ramai dikunjungi. Ketika musim berganti, tempat-tempat itu mulai dilupakan. Namun semua tren itu tidaklah bertahan lama. Ketika suatu tren meledak di masyarakat, semua hal berkenaan tentang hal itu menjadi begitu digemari. Masyarakat berbondong-bondong mengikutinya. 

Ketika tren berganti dan muncul tren yang baru, mereka akan meninggalkannya dan mengikuti tren yang baru. Kemudian hanya orang-orang yang benar-benar memiliki minat yang tetap menjalankan tren itu.

Menarik untuk menyimak sampai kapankah tren kopi in mewabah. Lalu tren apalagi yang akan datang dan menggantikan kepopuleran kopi hari ini?   

KUYTIMES.COM

Technology

News

Advertisemen

Advertisement

Health

Economy