18 Tahun Dharmasraya : Era Digital, Mau Dibawa Kemana Generasi Muda Kita?
KUYTIMES.COM -Beberapa minggu sebelum pencoblosan, saya ditelpon Tuanku Sutan Riska. Beliau mengajak bertemu. “Da, dimano posisi?” Sapa beliau dengan ramah. “Di rumah, Pak Bupati”, jawab saya. Singkat cerita, bertemulah kami. Tentu sebuah kehormatan bagi saya diminta bertemu. Ngerti sendiri lah, sapa pula awak ini. Bertemu lah kami di salah satu restoran di kota Padang. Saya agak telat, tentu saja bukan sedang menunjukkan rasa tidak hormat. Saya hanya keliru memperkirakan beliau datang di lokasi. Secara, rumah saya dari restoran cukup dekat, sekitar 5 menit dengan berkendaraan, sudah sampai.
Sebelum lebih jauh, saya ingin cerita sedikit satu kasus yang penting untuk menegaskan point yang ingin saya sampaikan nanti. Beberapa waktu yang lalu, saya nongkrong dan ngobrol cukup panjang dengan salah satu kawan, yang saat ini jadi praktisi keuangan. Rupanya, kawan ini cukup melek juga dengan perkembangan media digital dengan tetek bengeknya yang macam- macam itu. “Bang, sekarang banyak mahasiswa yang sudah lulus asal Dharmasraya tak berani pulang ke kampung, mereka bingung mau kerja apa, dan kemampuan yang dipunya terbatas juga”, begitu jelasnya. Saya mengangguk-angguk. Kasus ini menarik, jawab saya. Ini bukan saja membuktikan ada persoalan dengan kampus-kampus kita karena melahirkan orang-orang yang tak tahu mau apa setelah lulusnya. Di sisi lain, dunia kerja tak cukup bersahabat dengannya. Susah cari kerja. Padahal sarjana
Saya mencoba merespons penjelasan kawan ini. Hmm… saya kira memang ada ketimpangan antara apa yang diajarkan di kampus dengan kebutuhan zaman. Ini saya kira masalahnya cukup serius. Pikiran saya melayang ke Dharmasraya, bagaimana nasib-nasib anak-anak muda disana? Apa sekolah-sekolah disana juga menghasilkan yang sama, ketika anak-anak yang lulus juga tidak tau harus mau apa. Ruwet. Baiklah, saya mau sharing dengan pengalaman yang saya punya
Beberapa waktu yang lalu, Mark Zuckeberg mengganti nama bisnisnya menjadi Metaverse. Mungkin istilah metaverse sudah banyak yang mendengar, tapi bagi yang tidak bergelut dengan dunia digital, tentu tak cukup menarik baginya. Bagi saya, bukan saja soal menarik atau tidak, tapi saya harus paham karena itu akan sedikit banyak akan saya lakukan, sebagai pegiat media digital. Metaverse secara sederhana adalah dunia baru yang ingin diciptakan oleh Mark Zuckeberg secara virtual. Bagaimana memahami metaverse? Simple saja, kehidupan apa yang kita alami di dunia nyata ini, Mark ingin membuat hal yang sama di dunia virtual. Kita bisa belanja seperti halnya di dunia nyata, kita akan bisa memiliki asset seperti kita miliki di dunia nyata. Kita bisa punya rumah, restoran, mall, tanah, dan berbagai usaha disana. Apa alat transaksinya? Ada yg tau Crypto? Itu alat tukarnya, seperti rupiah di kita, atau dollar dan yang lainnya
Imajinasi orang tentang dunia masa depan sudah semakin canggih. Bahkan, Mark akan bisa menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan hidup kembali di metaverse. Akan sama persis semuanya, mulai bentuk mukanya, suaranya, bahkan karakternya. Secanggih itu.
Udah lah, jangan bermimpi. Kita hidup di daerah diujung Sumatera Barat. Kita ini orang kampong. Tak usah lah sampai ngomong metaverse segala. Benda macam apa itu. Hhmm… baiklah. Secara sederhana, saya ingin menjelaskan seperti ini
Zaman digital ini, membuat kita memiliki posisi yang sama. Selama jaringan internet lancar-lancar saja, maka posisi kita akan sama dengan mereka yang ada di kota-kota besar di Jawa sana. Era digital ini, seharusnya membuat kita semua memiliki peluang dan kesempatan yang sama untuk bisa berkarya. Semua ini membuat kita memiliki kemampuan untuk mengakses informasi menjadi sama dengan yang lain
Saya ingat betul, tahun 2000 yang lalu. Waktu itu, saya kelas 3 SMA. Internet tak ada. Harus diakui, kondisi ini benar-benar membuat kita orang kampung betul, jauh dari peradaban. Waktu itu Dharmasraya saja belum ada. Walau orang kampung, keinginan kuliah tetap ingin masuk kampus yang bergengsi. Tapi, bagaimana pula mau masuk kampus hebat itu. Fasilitas sekolah saja terbatas. Mau bimbel saja ga ada tempatnya. Sampai kemudian, dengan keterbatasan informasi, saya dan kawan terhubung dengan salah satu bimbel cukup terkenal di Jogja. Namanya, kami bimbel jarak jauh. Kami bayar biayanya dan setelah itu kami dikirimkan buku-buku soal dan lengkap dengan jawabannya untuk belajar secara mandiri. Dikirimlah pakai pos, belum ada tuh JNE, JNT, Lion Parcel, dan yang lainnya. Berhari- hari kami menunggunya. Sampailah kemudian, salah seorang pegawai TU mengabari kami jika ada paket untuk kami. Senang betul kami rasanya. Hanya kami berdua waktu itu yang ikut bimbel online. Itu dulu, sekarang semua terhubung dengan apa saja yang kita butuhkan untuk belajar. Semua kita sekarang menjadi sama posisinya. Kita bisa mengakses informasi apapun yang bisa diakses oleh mereka yang hidup di kota besar
Bagaimana anak-anak muda kita saat ini? Tentu saja mereka sudah terhubung dengan canggihnya digitalisasi saat ini. Sudah ada yang menjadi Youtuber dengan subscriber mungkin belum cukup banyak, tapi kemampuannya membuat video sudah cukup baik. Mungkin juga sudah ada yang memiliki kanal Instagram dengan follower yang cukup banyak. Tapi, kita bukan sedang bicara orang per orang, tapi kita bicara banyak orang. Kita bicara generasi muda Dharmasraya. Kita bicara, memberi kesempatan yang sama bagi semua generasi Dharmasraya agar terhubung dengan era digital ini. Bukan sekedar punya akun Facebook, dan berstatus ria tak jelas disana. Tapi mereka berkreatifitas disana, kasarnya mereka bisa cari uang disana dan hidup dari sana. Lihatlah, sekarang menjadi Youtuber duitnya bisa miliaran. Lihatlah, selebgram dapat duit ratusan juta rupiah. Lihatlah gamers dapat duit berjuta-juta. Media digital ini memberikan peluang yang sama untuk semuanya
Anak-anak muda Dharmasaraya saat ini baru sekedar menjadi pengguna media digital, belum sampai pada level bisa menghasilkan karya dan bahkan bisa menghasilkan duit dari sana. Sekarang, pekerjaan sudah banyak macamnya. Pekerjaan bukan lagi hanya jadi pegawai di Pemda, atau berkebun sawit dan karet, atau punya toko baju dan kelontong. Anak-anak muda sekarang bisa jadi Youtuber, Selebgram, punya usaha online, menulis online, fotographer, disainer, dan banyak lagi. Semua itu harus difasilitasi Pemda. Duit di pemda itu duit kita juga, duit masyarakat lewat pajak-pajak yang kita bayar. Sekarang, Pemda harus kembalikan ke masyarakat dengan membuat program- program yang mampu membuat mereka bisa menghasilkan apapun yang bisa membuat mereka menjadi lebih baik.
Era digital ini, bukan lagi bicara peluang, tapi keharusan. Saat ini, apapun akan terdigitalisasi. Yang ga bergerak ke digital, akan tumbang. Lihatlah mall-mall sudah banyak yang tutup. Orang belanja sudah bisa online, pasar-pasar online (Shopee, Lazada, Tokopedia, Bukalapak, Matahari mall, dan lainnya) sudah terinstall di gadget kita. Belum lagi e-commerse dengan brand- brand tertentu juga sudah menyediakan banyak produk. Tinggal buka HP, pilih barang, bayar dan menunggu barang datang. Sambil tiduran, tak perlu bersolek pergi ke mall untuk belanja. Semua pekerjaan kita akan tergitalisasi. Kita akan dipaksa untuk bergeser kesitu. Kenapa? Karena mitra-mitra mereka sudah melakukan media digital untuk aktivitas—aktivitasnya. Kita ga mau ikutan? Ya tinggal saja
Tentu, dengan kecanggihan dunia saat ini, anak-anak kita harus ditanamkan nilai-nilai moral yang kuat. Dengan nilai-nilai itu mereka bisa mengukur mana baik dan mana yang buruk. Itu adalah tugas kita sebagai Orangtua, tugas kita sebagai Guru, tugas para Ninik Mamak, tugas para Ulama, dan tentu saja tugas kita semua
Bahkan, untuk kampanye Pilkada, kita sudah memulainya pada Pilkada 2020 yang lalu. Perang video, peran konten. Itu adalah keniscayaan. Semua politisi harusnya menyadari ini, membuat kanal-kanal official di media sosial secara serius. Punya akun Facebook dan Instagram official. Punya kanal Youtube. Masyarakat kita sudah familier dengan semua kanal-kanal itu. Bergeserlah lagi. Sampaikan semua aktivitas disana, pamerkan apa yang sudah dikerjakan biar masyarakat tau apa yang sudah dikerjakan. Informasi penting sampaikan lewat kanal-kanal digital itu. Biaya irit sekali itu. Percaya lah
Jangan lupa pula. Ajari pula anak-anak kita berpikir kritis, agar dia bisa mengingatkan yang melakukan kesalahan, dan membenarkan yang melakukan kekeliruan. Betapa banyak sekarang yang salah menggunakan dengan kekuasaan yang ia punya. Baik yang punya kuasa politik, kuasa ekonomi, kuasa budaya dan apapun lah namanya. Bukan saja mereka agar mereka kritis ketika mereka melihat ada yang salah, tapi juga agar mereka suatu saat nanti juga bisa menerima kritik-kritik yang ia terima ketika ia memiliki kuasa
Penulis :Romi Siska Putra, Pegiat Digital Branding




